Tak sedikit orang merasa pentingnya berintegritas. Sayangnya, kejujuran sering dijunjung hanya pada hal-hal yang nampak besar. Perkara yang dianggap sepele dan tidak terlalu berdampak dianggap lumrah untuk tidak jujur. Manusia cenderung marah ketika mengetahui pengkhianatan besar seperti korupsi, selingkuh, penipuan, dan kecurangan dalam suatu seleksi. Namun, sering kali tidak ada kegelisahan yang sama ketika dirinya berkata “otw” padahal belum berangkat, “sedang saya kerjakan” padahal instruksi saja belum dibaca, menyontek saat ulangan harian, menakut-nakuti atau mengelabui anak kecil agar tidak tantrum atas keinginannya yang tidak terpenuhi, atau berbohong untuk sekadar bercanda.
Ketidaksesuaian tindakan/niatan dengan apa yang dikatakan menjadi seolah tidak masalah, dengan dalih selama tujuannya baik, selama tidak merugikan orang lain, selama hanya untuk meredakan keadaan (yang mana ini hanya menurut diri sendiri saja). Lama-lama standar kejujuran jadi bergeser. Bukan lagi soal benar atau tidak, melainkan soal nyaman atau tidak.
Di tengah hal yang tampak sepele itu, ada ayat yang terasa begitu tegas
menyangkal kemakluman tersebut:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 3)

Perlu ditekankan pemilihan kata dalam ayat ini: “Al-Maqtu” adalah kebencian yang sangat besar, ditambah dengan kata “Kabura” yang artinya agung dan besar. Artinya, kebencian yang sangat besar di sisi Allah bagi manusia akibat ucapannya yang tidak dilaksanakan. Ayat ini bukan sekadar peringatan ringan. Seolah ingin ditegaskan bahwa perkara ini tidak kecil, meskipun sering tampak kecil di mata manusia.
Dari situ jadi terasa, yang dinilai bukan hanya kebohongan besar, tetapi
juga kebiasaan kecil yang dibiarkan. Bukan hanya tentang salah atau tidak, tapi
tentang jarak antara apa yang diucapkan dan apa yang benar-benar dilakukan.
Ayat ini menjadi pedoman hidup saya untuk berhati-hati dalam berkata. Mengingat
kembali apakah benar itu yang saya lakukan atau akan saya lakukan. Tetap
memilih jujur, bahkan ketika itu hal kecil, bahkan ketika tidak ada yang
benar-benar mempermasalahkan, bahkan ketika lebih mudah mengatakan hal lain.
Semoga ayat ini semakin menjangkau banyak kalangan, agar tak lagi
meremehkan keselarasan tindakan dengan perkataan. Tidak ada lagi pemakluman
untuk kebohongan. Juga menguatkan diri ini untuk lebih jujur, dan mengingatkan
bahwa hal kecil pun tetap bernilai di sisi Allah Swt.
0 comments:
Post a Comment